TOTAL FACTOR PRODUCTIVITY (TFP) DAN PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH (2001-2005)

teddy-plan1

FX Sugiyanto dan Alfa Farah

Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi FE UNDIP

Kinerja perekonomian Jawa Tengah selama periode 2001-2005 relatif baik, antara lain ditunjukkan oleh tren angka pertumbuhan ekonomi yang cenderung meningkat. Selama periode tersebut pertumbuhan tertinggi dicapai pada tahun 2003 yaitu 5,13 persen, lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomo nasional. Angka pertumbuhan terendah adalah 3,55 persen pada tahun 2002. Sedangkan pertumbuhan rata-rata adalah 4,3 persen

Gambar 1

Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah (2001 – 2005)

Sumber : PDRB Jawa Tengah Beberapa Edisi, diolah

Pertumbuhan ekonomi tersebut diorong oleh kinerja sektor penyumbang utama PDRB yaitu sektor industri, sektor perdagangan dan sektor pertanian. Dari sisi permintaan (demand side) pertumbuhan ini bisa dijelaskan oleh pertumbuhan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor. Dari sisi penawaran (supply side) pertumbuhan ini bisa dijelaskan dari share atau peranan input seperti tenaga, modal dan faktor lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Dalam tujuh tahun terakhir, pengeluaran konsumsi, masih tetap yang terbesar dan cenderung meningkat. Sementara peranan modal relatif masih kecil, walaupun juga meningkat. Hal demikian selain mengindikasikan, peran modal yang masih relatif kecil, dan tujuan pengeluaran terutama untuk konsumsi, adalah juga merupakan indikasi produktivitas tenaga kerja yang relatif besar dalam pertumbuhan ekonomi.

Tabel 1

KOMPOSISI PDRB MENURUT PENGGUNAAN (Persen)

Share thd PDRB

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Share PMTB to PDRB

16.95

14.48

14.50

14.83

16.00

16.74

17.76

Share Cons RT to PDRB

63.56

64.07

63.91

64.45

64.77

65.31

64.32

Share Gov Exp to PDRB

7.95

9.76

9.15

10.01

10.24

11.32

13.73

Sumber: Badan Pusat Statistik Jateng (diolah)

Peran Total Factor Productivity

Dalam teori pertumbuhan ekonomi klasik yang dikembangkan oleh Solow, faktor input tenaga kerja dan modal adalah determinan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Di luar tenaga kerja dan modal, ada faktor yang sering disebut dengan total factor productivity (TFP) yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain total TFP menjelaskan peranan faktor lain diluar faktor tenaga kerja dan modal. Secara matematis diformulasikan : , dimana A adalah tingakt teknologi, K adalah modal dan L adalah tenaga kerja

Di balik konsep TFP ini, sebenarnya yang mau diketahui adalah pengaruh technological progress (perkembangan teknologi) seperti pengusaan teknologi produksi, tingkat pendidikan dan keahlian tenaga kerja, kemampuan penguasaan teknologi dan lain sebagainya terhadap pertumbuhan ekonomi. Secara empiris jelas tidak mudah untuk mengetahui pengaruh dan peran teknologi ini karena sifatnya yang embodied kedalam peran modal dan tenaga kerja itu sendiri. Akan tetapi ”pesan” penting berkaitan dengan upaya mendekomposisi peran teknologi dalam proses ini sesungguhnya adalah bahwa untuk mengetahui peran ’managerial” dalam setiap proses produksi. Dengan demikian, akan dengan lebih mudah merumuskan kebijakan apa yang harus dirumuskan untuk meningkatkan produktivitas.

Secara matematis peranan teknologi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dapat diformulasikan :– penurunan model bisa dilihat dalam lampiran-

Peranan TPF terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah

Peran investasi di Jateng mempunyai trend yang meningkat, dalam tujuh tahun terakhir rata-rata sebesar 15,90 persen. Sementara pertumbuhan modal Jawa Tengah selama periode 2001 -2005 menunjukkan tren meningkat selama periode 2001-2005. Pertumbuhan pada tahun 2004 bahkan mencapi angka 13,47 persen. Rata-rata pertumbuhan dalam 5 tahun adalah 4,41 persen

Sementara itu, pertumbuhan tenaga kerja dalam periode yang sama menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi. Pertumbuhan pada tahun 2001 adalah 3,97 persen, menurun menjadi minus 2,09 persen pada tahun 2002, meningkat kembali menjadi 3,02 persen pada tahun 2003, kembali menurun menjadi -1,75 persen pada tahun 2004 dan terakhir 4,86 persen pada tahun 2005. Secara umum, rata-rata pertumbuhan tenaga kerja dalam 5 tahun relatif rendah yaitu sebesar 1,16 persen.

Gambar 2

Pertumbuhan PMTB 2000 – 2006

Sumber: Badan Pusat Statistik Jateng (diolah)

Gambar 3

Pertumbuhan Angkatan Kerja yg Bekerja 2001-2006

Sumber: Badan Pusat Statistik Jateng (diolah)

Gambar 4

TPF 2000-2006 (Persen)

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa selain input tenaga kerja dan modal, TFP yang menunjukkan bagaimana input tenaga kerja dan modal digunakan dalam suatu perekonomian juga mempengaruhi tingkat pertumbuhan yang dicapai. Share TPF terhadap pertumbuhan selama periode 2001-2005 cenderung fluktuatif seperti yang terliat dalam gambar 3 dengan rata-rata pertumbuhan TFP 2,23 persen per tahun. Fluktuasi TFP tidak sejalan dengan fluktuasi pertumbuhan ekonomi, tertapi ada kecenderungan yang berbeda arah dengan pertumbuhan lapangan kerja.

Seperti kebanyakan yang terjadi di negara berkembang lainnnya, secara umum sumbangan faktor tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah adalah paling tinggi dibandingkan sumbangan dua faktor lainnya. Hal ini bisa dipahami karena struktur industri cenderung masih labour intensive. Selam periode 2001-2005, rata-rata sumbangan pertumbuhan tenaga kerja tehadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah adalah sekitar 1,35 persen, rata-rata sumbangan modal 0,73 persen dan , TPF 2,23 persen (Tabel 2).

Tabel 2

GROWTH, SHARE OF CAPITAL, SHARE OF LABOR AND TPF

Tahun

Ec. Growth

Share of Cap to Ec. Gw

Share of Labor to Ec. Gw

Share of TPF

2001

3.59

(1.66)

3.40

1.86

2002

3.55

0.54

(1.79)

4.81

2003

4.98

1.09

2.57

1.32

2004

5.13

2.15

(1.47)

4.44

2005

4.27

1.52

4.04

(1.30)

Rata-rata

4.30

0.73

1.35

2.23

Sumber : PDRB Jawa Tengah Beberapa Edisi, diolah

Secara umum, dari sini kita bisa melihat bahwa TFP memiliki peranan yang cukup tinggi dalam mendorong perekonmian Jawa Tengah. Oleh karena itu, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sustain pada masa mendatang, meningkatkan penguasaan teknologi yang antara lain bisa dilakukan dengan meningkatkan kualifikasi tenaga kerja baik melalui peningkatan pendidikan maupun keahlian (knowledge and skills) menjadi suatu hal yang harus dilakukan.

Gambar 5

Pertumbuhan PDRB, PMTB, AK dan TPF (Persen)

Kesimpulan

  • Pada periode 2000 – 2006, peran tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi masih lebih besar dibandingkan dengan peran modal terhadap pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, TPF mempunyai peran yang paling besar. Dengan demikian, apabila ingin meningkatkan pertumbuhan, faktor-faktor yang menentukan TPF menjadi faktor yang paling strategis untuk meningkatkan pertumbuhan tersebut
  • Belum bisa ditunjukkan secara adanya korelasi antara pertumbuhan modal dengan TPF, tetapi pertumbuhan lapangan kerja (angkatan kerja yang bekerja) dengan TPF terjadi korelasi negatif yang cukup besar (-0,93). Hal ini menunjukkan kecenderungan adanya trade-off, petumbuhan lapangan kerja dengan TPF. Karena itu, setiap upaya meningkatkan TPF akan mempunyai implikasi terhadap penurunan tingkat pertumbhan lapangan kerja.
  • Demikian juga sumbagan tenaga kerja terhadap pertumbuhan berkorelasi negatif dengan share TPF terhadap pertumbuhan, sementara sumbangan modal terhadap pertumbuhan berkorelasi negatif terhdap TPF walaupun tidak cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan peran TPF terhadap pertumbuhan tidak mempunyai kaitan yang kuat terhadap peran modal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada indikasi kuat sumber-sumber kenaikan TPF tidak berasal dari luar tenaga kerja dan modal, mis dari kualitas manajemen, teknologi, ketrampilan.

Strategi

  • Berdasarkan temuan tersebut, maka dapat dirumusan strategi ketenagakerjaan di Jateng, namun hal ini tergantung kepada tujuan yang akan dicapai. Formulasi startegi berikut mengasumsikan bahwa tujuan penciptaan lapangan kerja sebagai tujuan kebijakan. Dengan asumsi ini, maka pemerintah tidak perlu berambisi harus meningkatan TPF, karena peningkatan TPF akan cenderung memperlambat pertumbuhan lapangan kerja. Tetapi strategi ini masih bersifat umum, untuk itu strategi ini perlu di break-down, dengan mengaji lebih mendalam hubungan antara TPF dan lapangan kerja tersebut pada berbagai kelompok industri yang mempunyai karakter teknologi produksi yang berbeda-beda. Secara hipotetis, perlu strategi yang berbeda-beda diantara berbagai jenis industri tersebut.
  • Strategi kedua, masih dengan asumsi penciptaan lapangan kerja, tanpa mengorbankan sifat industri; katakanlah yang padat karya, TPF dapat dipacu dengan meningkatkan faktor-faktor di luar modal. Kombinasi kedua strategi dapat diterapkan untuk mencapai tujuan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan TPF sekaligus.


REFERENSI

Kaloyan Ganev, 2005., “Measuring Total Factor Productivity: Growth Accounting for Bulgaria”, Jurnal of Economic Literature, JEL code: E22, O47

Hajek, Mojmir, 2005., “Economic Growth and Total Factor Productivity in the Czech Repubic from 1992 to 2004”, Centrum Ekonomickych Studii VSEM, Workin Paper CES VSEM No 5

Nivikar Sing and Hung Trieu, 1996., ”Total Factor Productivity Growth in Japan, South Korea, and Taiwan”,

Diego Comin, 2000., “Total Factor Productivity”, NBER, August

Takanobu Nakajima, Koji Nomura, and Toshiyuki Matsuura, 2004., Factor Productivity Growth: Survey Report, Asian Productivity Organization


Lampiran: Penurunan TFP

Fungsi Produksi

, dimana

A adalah level teknologi

K adalah modal

L adalah tenaga kerja

Transformasi ke bentuk ln

Derivasi terhadap t

Karena

Maka

Bisa dituliskan dengan

Dengan asumsi pasar kapital dan tenaga kerja kompetitive, maka:

Jika

dengan

Bisa dituliskan

TFP