PERANAN KURIKULUM PAK TRANSFORMATIF PADA TINGKATAN PENDIDIKAN TERHADAP PENINGKTAN KUALITAS PENDIDIKAN

Oleh Yowelna Tarumasely /Leasiwalmy-sweet-heart8

Dosen STAKPN/ Mhsw S2 KTP Unnes Semarang

Penyelenggaraan pendidikan menggunakan pendekatan yang sentralistik sehingga sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi, yang kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Dengan demikian, sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional. Saat ini dunia pendidikan kita cenderung terlalu banyak memompa peserta didik dengan pengetahuan tanpa memberikan waktu yang cukup kepada mereka untuk menyerap atau memahami makna dari pengetahuan tadi.
Hal ini mengakibatkan pengetahuan menjadi tidak bermakna (meaningless knowledge) dan tidak dapat menjadi topangan dari suatu skills yang bersifat dinamis. Selain itu, banyak pelajaran yang menjadi hafalan, sampai pelajaran Matematika dihafalkan, Sejarah pun dihafalkan tanpa dipahami, begitu juga Agama, dalam hal ini PAK ( Pendidikan Agama Kristen ) dihafalkan tanpa peresapan dan pemahaman. Kondisi seperti ini bisa menjadi tabir yang menghalangi dunia pendidikan kita dengan perkembangan dan tuntutan dunia kerja yang terus berubah.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka sangatlah rasional jika manajemen KBK PAK diterapkan di propinsi Maluku. Hal ini dimaksudkan agar penguasaan dan penyerapan serta pemahaman terhadap PAK oleh para siswa dapat tingkatkan kearah yang lebih baik. Sehingga diharapkan akan terjadi perubahan bukan saja pada kognitif siswa tetapi akan membawa perubahan pada afektif dan psikomotorik siswa.
Ada beberapa hal yang menyebabkan kurang berhasilnya penerapan KBK 2004 khususnya pada Kurikulum PAK SD, SMP, SMA ini. Berikut adalah intisarinya:
1) Kurang siapnya guru. Ini meliputi pengetahuan dan keterampilannya, terutama dalam fungsinya sebagai fasilitator.
2) Kurangnya prasarana dan sarana yang memadai. Terutama tentang alat-alat peraga yang dibutuhkan.
3) Guru kurang paham KBK 2004 karena sosialisasinya yang tidak lancar, tidak merata dan tidak mendalam sehingga banyak guru yang masih bingung inti dari KBK dan bagaimana melaksanakannya.
Pada PAK SD lebih menekankan pada pengenalan terhadap nilai – nilai Kristiani. PAK SMP masih juga menekankan pada pengenalan nilai – nilai Kristiani namun lebih banyak berbicara tentang bagaimana memahami nilai – nilai tersebut. Sedangkan pada PAK SMA, lebih menekankan bagaimana mengimplementantasikan nilai – nilai Kristiani tersebut dalam kehidupan sehari – hari, baik dilingkungan sekolah maupun di masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PAK SD,SMP,SMA memberikan peranan dalam penguatan dan peningkatan akhlak sehingga dapat menopang kualitas pendidikan.
Kurikulum PAK transformatif tingkat SD ; Jika kita mengaju pada karakteristik siswa / anak,maka dapat dikatakan bahwa muatan nya tidak terstruktur dengan baik sesuai dengan karakteristik anak. Sesuai pandapat dari sorang ahli psikologi pendidikan Jerome Bruner : bahwa mestinya isi kurikulum itu dia terstruktur , terstruktur berdasarkan tingkat kesulitan dari materi itu sendiri,tetapi yang terdapat pada kurikulum SD tidak demikian ,muatannya juga masih mengalami pengulangan – pengulangan. Kurikulum PAK Transformatif tingkat SMP ; Muatan kurikulum Pak SMP,belum terstruktur dengan baik,dan masih terjadi pengulangan – pengulangan pada materi – materi tertentu, pendalaman materi masih kurang,disamping itu kurikulum juga menuntut persiapan yang maksial dari para guru,penguasaan materi sangat penting. Kurikulum PAK Transformatif Tingkat SMA ; belum banyak mengalami perubahan, materi yang yang diberikan belum menjawab apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak terstruktur dan tidak memiliki sasaran yang tepat serta penggunaan alat bantu yang kurang memadai masih menjadi kendala utama dalam proses pembelajaran. Sedangkan Kurikulum PAK STAKPN : kurikulum PAK Stakpn mengalami perubahan yang positif misalanya kurikulumnya tidak terstruktur dengan baik,tidak memperhatikan karakteristik peserta didik,kemudian terjadi perubahan pada kurikulum yang baru, muatannya tidak sesuai dengan konteks,teorinya terlalu banyak dibandingkan denan pendalaman, Stakpn belum memilki kurikulum berbasis kompetensi, itu yang akan menjadi tantangan bagi Stakpn, apalagi d engan munculnya kusikulum 2006 kurikulum tingkat satuan pendidikan
Untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berorientasi pada model PAK yang bertujuan untuk mencapai tranformasi nilai – nilai Kristiani dalam kehidupan siswa ( kognitif, afektif, psikomotorik ) pada level pendidikan dasar dan menengah serta memberikan ruang yang sama bagi siswa untuk meningkatkan daya kreativitasnya masing –masing sesuai dengan karakteristik, sosial budaya dan potensi yang dimiliki oleh daerah
Kurikulum 94 KBK sangat memajukan dan menghasilkan buah. Kita melihat banyak siswa yang kreatif, berani mengekspresikan gagasannya, sungguh punya kompetensi bicara bahasa Inggris, dan lain-lain. Banyak karya siswa yang diungkapkan baik dalam bentuk alat peraga, karya ilmiah, dan tulisan di majalah. Sekolah-sekolah ini berhasil dengan KBK, karena guru mereka disiapkan dengan baik dan fasilitas tersedia. Secara tradisional, “kurikulum” biasa dimengerti sebagai serangkaian program yang berisi rencana-rencana pelajaran yang telah disusun sedemikian rupa yang dapat dipakai secara langsung oleh guru untuk mengajar.
Guru beranggapan bahwa semua yang telah disusun dalam rencana-rencana pelajaran itu harus diikuti setiap detailnya dengan setepat mungkin. Akibat dari pengertian ini guru menjadi frustrasi karena ketika dipraktekkan, semua hal dalam rencana pelajaran itu tidak dapat diikuti semuanya dengan tepat. Tapi guru merasa rencana pelajaran itulah satu-satunya pedoman utama yang harus diikuti karena pelajaran yang ada di kurikulum itu dibuat oleh para ahli, sehingga pasti sudah baik dan mereka tidak perlu mengubahnya lagi. Guru akhirnya makin lama makin terpancang dengan rencana pelajaran yang telah disusun tsb. dan tidak dapat mengembangkan idenya sendiri sehingga bahan dalam kurikulum itu bukannya menjadi penolong bagi GSM tapi malah menjadi penghalang bagi guru untuk berkembang. Dalam arti kontemporer “kurikulum” diartikan secara lebih luas, karena kurikulum tidak lagi menekankan pada daftar isi materi rencana pelajaran yang memiliki topik-topik yang telah disusun, tapi lebih menekankan kepada pengalaman-pengalaman proses belajar mengajar yang dapat diberikan kepada para murid dalam konteks dimana murid-murid berada.
Dalam konteks pelayanan anak Kristen “kurikulum” dimengerti sebagai program pengajaran lengkap untuk anak-anak yang di dalamnya mencakup daftar subyek/topik pengajaran dalam Alkitab yang telah diintegrasikan dengan pengalaman-pengalaman untuk disesuaikan dengan konteks gereja setempat yang berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab dan yang berpusat pada Kristus serta dipimpin oleh Roh Kudus untuk tujuan pertumbuhan rohani murid (anak didik). Dari pengertian di atas, jelas bahwa kurikulum bukanlah program pengajaran yang disusun terpisah dari Alkitab. Pada intinya program pelajaran yang ada di kurikulum adalah rencana pelajaran yang disusun berdasarkan topik-topik yang menunjang pertumbuhan rohani sesuai yang diajarkan Alkitab.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. H. Soedijarto, MA “ Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional ” Artikel 2004 , internet 089 – 107
Muhammad Yaumi. (Mahasiswa program Master/S2 di University of Northern Iowa “ KBK antara Harapan dan Kenyataan ” Artikel 2004, Jurnal Pendidikan UNESA
Eko Supriyanto “Ketika KBK Mengalami Ketimpangan” , Suara Merdeka Senin, 27 Maret 200
6